Januari 06, 2014

Hai,

Hai, namaku Anggita.
Soal percintaan, aku memang lemah.
Dulu, kata beberapa teman SMA ku aku penyabar sekali bahkan bisa terlihat bodoh.
Sekarang, kata mata teman kuliah aku terlihat egois..
Pada saat masa pendekatan aku melihat pacarku seperti orang yang emosional, tertutup. Itu yang mulanya membuatku ragu.
Berbanding terbalik denganku yang memainkan emosiku sendiri tanpaku perlihatkan, terbuka kepada orang yang ku percaya, bahkan terkesan berlebihan jika menyatakan suatu hal.

Beberapa hal yang perlu diketahui adalah;
1. aku pencemburu. berbeda dengan temanku yang tidak percaya dengan hal ini, tapi malah aku tanamkan sifat itu, tidak pernah dengan benda, keluarga atau temanteman sejenis, tetapi wanita, sekalipun temanku. Silahkan cibir aku sepuasnya.
2. aku berlebihan. dalam hal berfikir bertindak berucap. Bercandaku terkesan serius, seriusku terkesan bercanda. Emosipun berlehbihan meski ku tahan sendiri. Aku cengeng, suka sekali menangis bila hatiku sedikit saja "disentuh"
3. aku manja, jujur, manja yang kumaksud bukan soal minta antar jemput atau minta disuapin atau minta dibawain tas atau minta dihapuskan air mata ketika menangis, persetan untuk itu semua. Aku manja untuk mencari perhatian dari pacarku. Bukan, bukan berarti pacarku kurang memberi perhatian, justru sebaliknya, Aku seperti memiliki siasat untuk memperbanyak waktuku dengannya melalui cara itu. Jika kalian tau, aku seringkali berkata padanya hal yang sebetulnya tidak aku rasakan. "Aku lagi kepengen makan baso deh" itu ku katakan hanya karena ingin menghabiskan waktu sore ku dengannya, bukan benar-benar ingin makan baso. Silahkan katakan aku wanita yang tidak bersyukur.
4. aku egois, 3 point diatas jika digabungkan akan menghasilkan point ke 4 ini.Jika dilihat lebih dalam, aku lah yang selalu egis, aku mementingkan kemauan diriku sendiri tanpa memikiran kondisi, waktu, dan kesehatan pacarku. Out of control.

Perlu diketahui juga, pacarku sudah berubah ketika awal kami bersama. Pacarku sudah mampu mengontrol emosinya, dia juga sudah sedikit terbuka padaku. Parahnya, dia selalu mengatakan "iya" tentang keegoisanku, kemanjaanku. Mengapa parah? Iya, pacarku sama saja menghalalkan dosa yang sudah kuperbuat. Dalam paragraf ini aku sembari mengingat apa yang pernah ia katakan "Mungkin di otakku yg ada sekarang hanya memikirkan gimana caranya buat kamu bahagia dan selalu mengabulkan permintaan kamu yang kamu mau dan inginkan". Sungguh, kalimat yang selalu menamparku ketika aku sadar akan sifatku.

Seharusnya aku tau dan paham. Puncaknya, pacarku (mungkin) lelah akan kemanjaan palsuku, sampai-sampai dia tidak bisa membedakan, sampai dia memiliki persepsi lain, memang salah ku.Dan cuma aku yang harus mengubahnya.

Segitu saja tentang aku dan keegoisanku..
Semoga pacarku selalu memaafkan..
Semoga aku satu-satu nya wanita yang se-egois-itu.
Silahkan berfikir apapun tentang aku,
jangan lupa berdoa untuk aku dapat mengubah segalanya itu.
Amin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar